Minggu, 23 November 2008

Bahan Psikologi Perkembangan II pertemuan VIII

PERKEMBANGAN EMOSI PADA MASA REMAJA

Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai masa "storm and stress" / "badai dan tekanan", yaitu suatu masa di mana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar.

Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Misalnya, masalah yang berhubungan dengan percintaan. Bila kisah cinta berjalan lancar, remaja menjadi bahagia, tetapi mereka menjadi sedih bilamana percintaan kurang lancar. Demikian juga menjelang berakhirnya masa sekolah para remaja mulai mengkhawatirkan masa depan mereka.

Pada masa remaja terjadi peningkatan emosi, dimana remaja menjadi:

· Tidak aman

· Timbul ketegangan

· Tidak dapat menyesuaikan diri

· Berperilaku impulsif

· Bermasalah pada diri maupun lingkungan

Sehingga seringkali masa ini merupakan UNHAPPY AGE.

Peningkatan emosi terjadi pada awal remaja usia 11-12 tahun dan berakhir masa anak sampai dengan akhir early adult.

Menurun kembali pada usia 16 tahun, dan pada akhir remaja (17-18 tahun) meningkat kembali di dalam hubungan dengan level of aspiration menuju sekolah.

Sebab-sebab peningkatan emosi

Peningkatan emosi terjadi sebagai akibat adanya masalah-masalah sosial, dimana lingkungan sosial lebih mendorong peningkatan emosi individu, yaitu:

· Penyesuaian pada lingkungan baru

· Harapan sosial untuk lebih bertingkah laku lebih matang

· Aspirasi yang tidak realistik

· Penyesuaian diri dengan lawan jenis kelamin

· Masalah sekolah dan pekerjaan

· Hubungan keluarga yang tidak harmonik

Pola emosi pada masa remaja:

1. Amarah

Adanya perlakuan-perlakuan yang tidak sesuai dengan keinginannya akan menyebabkan individu merasa marah. Perlakuan itu seperti menganggap "masih kecil", merasa "tidak ditemukannya keadilan", dll.

Ungkapannya marahnya tidak seperti anak kecil yang meledak-ledak, tapi lebih memperlihatkannya dengan menggerutu, diam, atau bahkan mengkritik langsung dengan suara yang lantang.

2. Takut

Pembiasaan, peniruan dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenangkan berperan penting dalam menimbulkan ketakutan. Kebanyakan remaja menghindar atau lari dari rasa ketakutan itu.

3. Cemburu

Remaja akan merasa cemburu juga kalau perhatian orang tua atau orang lain tidak kepada dirinya, melainkan lebih memperhatikan orang lain.

4. Ingin tahu

Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terutama kepada lingkungan. Beda dengan masa anak, kalau anak memiliki rasa ingin tahu mengenai tubuhnya atau dirinya sendiri. Rasa ingin tahu yang tinggi ini kalau tidak dibarengi dengan pengetahuan, maka akan menimbulkan hal yang negatif nantinya untuk anak.

5. Iri hati

Merasa iri dengan apa yang dipunyai oleh temannya. Biasanya anak hanya bisa mengeluh. Kalau remaja, perasaan itu nantinya membuat dia ingin mendapatkannya dengan mencari kerja sambilan, sehingga dia mendapatkan uang. Dan tidak jarang, nantinya remaja itu bisa berhenti sekolah karena sudah bisa menghasilkan uang.

6. Gembira

Remaja akan merasa gembira kalau apa yang dia inginkan dapat dia capai dan dia lakukan.

7. Sedih

Remaja akan merasa sedih kalau kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintainya. Remaja biasanya mengungkapkannya dengan sedih atau kompensasi kemakanan.

8. Kasih sayang

Remaja sudah mau belajar mencintai orang, benda atau binatang yang menyenangkan. Biasanya sudah bisa diungkapkan langsung secara lisan oleh ramaja.

Bentuk-bentuk Emosi:

1. emosi yang menyenangkan

perasaan senang, bahagia, kasih sayang, cinta

2. emosi yang tidak menyenangkan

takut, cemas, sedih, kesal, kecewa, frustrasi, marah.

Jenis-Jenis Emosi Menurut W.Wundt (1832-1920), ada 3 pasang kutub emosi:

1. Lust - Unlust (senang - tidak senang)

2. Spannung - Losung (tegang - tidak tegang)

3. Erregung - Berubigung (semangat - tenang)

Seorang melihat harimau, keadaan emosinya unlust, spannung, erregung. Seorang mahasiswa yang lulus: lust, losung, berubigung

Emosi yang banyak terjadi pada saat remaja, biasanya dikenal dengan emosi yang menggebu-gebu. di satu pihak, emosi yang menggebu-gebu ini sangat menyulitkan terutama bagi guru dan orang tua. Tapi, di pihak lain, emosi seperti ini bermanfaat untuk remaja. remaja itu terus mencari identitas dirinya.

Emosi ini disebabkan oleh konflik peran yang sedang dialami remaja. Ia ingin bebas, tapi masih tergantung pada orang tua. Ingin dianggap dewasa, sementara masih diperlakukan seperti anak kecil. Dengan adanya emosi itu remaja secara sertahap mencari jalannya menuju kedewasaan, karena reaksi orang-orang di sekitarnya terhadap emosinya akan menyebabkan si remaja belajar dari pengalaman untuk mengambil langkah-langkah yang terbaik.

Kematangan Emosi

Kriterianya

1. Dapat menginterpretasikan rangsang-rangsang emosi dari lingkungan remaja seharusnya sudah dapat menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, tidak bereaksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang tidak matang. Dengan begitu remaja mengabaikan banyak rangsangan yang tadinya dapat menimbulkan ledakan emosi. Remaja yang emosinya matang memberikan reaksi emosional yang stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi atau suasana hati yang lain.

Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi-situasi yang dapat menilbulkan reaksi emosional. Caranya adalah dengan membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Karena keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial.

2. Dapat mengontrol reaksi-reaksi emosi pada rangsangan emosional. Untuk mencapai kematangan ini digunakanlah katarsis emosi. Katarsis emosi itu seperti melakukan latihan fisik yang berat, bermain atau bekerja, tertawa atau menangis.

Tidak ada komentar: